BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Baru-baru
ini Indonesia digemparkan dengan berita menyebarnya sebuah virus yang berasal
dari China. Virus merupakan sebuah bahasa yang berasal dari Yunani yaitu Venom
yang berarti racun dan dapat dengan cepat menular ke tubuh manusia dengan
berbagai cara. Virus yang berasal dari China ini dikenal dengan nama
Coronavirus. Coronavirus merupakan salah satu virus yang serupa dengan common
cold atau pilek yang dapat menyebabkan penyakit ringan hingga serius. Sedangkan
virus yang menggegerkan di Negara Indonesia yang berasal dari China merupakan
Virus Corona. Virus corona baru ditemukan menyebabkan penyakit coronavirus
Covid-19. Covid-19 ini merupakan penyakit menular dan baru diketahui ketika
wabah ini dimulai dari Wuhan, China pada bulan Desember 2019.
Virus
ini merupakan virus yang berasal dari hewan seperti kelelawar yang ditularkan
kemanusia di Kota Wuhan, China dimana akibat dari masyarakat disana yang gemar
memakan makanan-makanan yang tidak lazim untuk dimakan seperti kelelawar
tersebut. Virus ini pun akhirnya menyebar hingga seluruh dunia bahkan
indonesia. World Health Organization (WHO) telah menetapkan bahwa Covid-19 atau
coronavirus ini merupakan pandemi yang telah menyebar ke seluruh dunia. Ini
adalah virus pertama yang sampai menyebar ke seluruh penjuru dunia dan
menyebabkan banyak permasalahan seperti sosial, ekonomi dan menyebabkan
kenaikan mortalitas (kematian) pada masyarakat. Virus ini menyebar dengan
sangat serta gejala yang dirasakan umumnya adalah demam, kelelahan dan batuk
kering. Gejala yang dirasakan biasanya ringan dan mulai secara bertahap,
pemerintah mengatakan gejala Covid-19 ini dinyatakan positif setelah 14 hari.
Dengan
munculnya Covid-19 pemerintah Indonesia mulai menegaskan bahwa masyarakat di
himbau untuk tidak melakukan aktivitas di luar rumah upaya untuk menghindari
meningkatnya penyebaran Covid-19. Cara yang dilakukan pemerintah adalah dengan
melakukan social distancing dan PSBB atau Pembatasan Sosial
Berskala Besar. Untuk saat ini masyarakat Indonesia sudah mulai mengikuti dan
mematuhi perintah yang diberikan pemerintah meskipun masih banyak orang-orang
yang belum bisa mematuhinya.
Akan
tetapi dari kebijakan tersebut dan akibat dari pandemi virus ini muncul
permasalahan yang dirasakan dari berbagai kalangan baik kalangan atas, menengah
dan bawah. Namun, tentu saja kalangan bawah merasakan dampak yang begitu besar,
pasalnya mereka menjadi kesulitan dalam mencari nafkah dan kesulitan untuk
mendapatkan alat pencegahan Covid-19 seperti handsanitizer dan masker sehingga
mereka mudah terkena virus sehingga menyebebakan kematian. Pemerintah pun
berupaya semaksimal mungkin agar bisa menangani pasien-pasien Covid-19 dengan
baik dan juga memberikan alat pencegahan kepada kalangan bawah.
Selain
itu kondisi saat ini dimana Indonesia sebagai negara yang memiliki bonus
demografi yang seharusnya sedang dalam kondisi membangun sebuah kekuatan
ekonomi yang sangat besar harus mengalami keterlambatan ekonomi akibat dari
wabah virus ini dimana, kondisi saat ini membuat perekonomian negara menjadi
terganggu. Selain itu adanya program PSBB serta progran Physical Distancing
diberbagai daerah sebagai langkah negara dalam mencegah penularan virus
tersebut ternyata memiliki dampak yang buruk dalam segi pertumbuhan ekonomi.
Dimana
kodisi saat ini secara tidak langsung membuat ekspor dan impor produk menjadi
tergangu, serta berkurangnya atau melambatnya laju investasi. Hal ini terjadi
akibat dari sulitnya masuk investasi dari luar akibat pengaruh wabah virus ini.
Selain itu banyaknya tenaga kerja produktif yang harus mengalami putus hubungan
kerja akibat dari kondisi saat ini yang membuat berbagai bidang khususnya
industri mengalami penurunan penjualan dan permintaan pasar seperti industri
tekstiel dan industri garme dalam basis pembuatan pakaian secara masal.
Banyaknya yang mengalami pemutusan hubungan kerja ini membuat tingginya
jumlah angka pengangguran.
Hal
ini lah yang mennjadi ancaman bagi ekonomi di Negara Indonesia dimana
pertumbuhan ekonomi yang telah mengalami pelambatan ditambah kurangnya laju
investasi serta banyaknya pengangguran dan penuhnya kebutuhan medis dalam
rangka mengatasi permasalahan virus corona membuat sebuah masalah bari di
negeri ini. Sebagai negara yang mendapatkan bonus demografi di tahun ini
seharusnya Indonesia mampu membangun ekonomi dengan baik akan tapi bagaimana
proses pembangunan tersebut dapat terjadi. Oleh karena itu artikel ini dibuat
untuk membasah bagaimana indonesia sebagai negara yang memiliki bonus demografi
menghadapi masalah ekonomi ditengah krisis akibat penyebaran virus corona.
- Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
kondisi Indonesia sebagai negara yang mendapat bonus demografi ditengah ancaman
krisis ekonomi akibat pandemic covid-19?
2. Bagaimana
upaya pemerintah dalam menangani krisis ekonomi pada saat pandemi covid-19 ?
3. Bagaimana
upaya masyarakat yang menjadi bonus demografi di Indonesia dalam menghadapi
krisis ekonomi akibat pandemic covid-19?
- Tujuan
1. Mengetahui
kondisi perekonomian di Indonesia sebagai negara yang mendapatkan bonus
demografi ditengah acamanan penyebaaran virus covid-19
2. Mengetahui
peran pemerintah dalam menangani krisis ekonomi saat pandemi covid-19
Mengetahui peran masyarakat khususnya
masyarakat yang menjadi bagian dari bonus demografi di Indonesia dalam
menanggapi krisis ekonomi saat pandemi covid-19.
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
- Virus COVID-19
Virus
merupakan sebuah partikel yang masih belum diketahui dan dibicarakan statusnya
apakah ia termasuk makhluk hidup atau benda mati. Dikatakan makhluk hidup
karena virus dapat memperbanyak diri dalam tubuh dan dikatakan benda mati
karena virus dapat dikristalkan. Para ahli biologi menetapkan bahwa virus
merupakan organisme non-seluler karena ia tidak mempunyai kelengkapan seperti
sitoplasma, organel sel dan tidak bisa membelah diri sendiri. Ada beberapa
tokoh telah melakukan penemuan virus pertamanya seperti Dmitri Ivanovski (1892,
Rusia) mengatakan bahwa ia mencoba menyaring getah tanaman yang sakit dengan
filter bakteri sebelum disemprotkan ke tanaman sehat. Hasilnya, tanaman sehat
tetap tertular. Ia menyimpulkan bahwa ada partikel yang lebih kecil lagi dari
bakteri yang lolos saringan yang menularkan penyakit.
Hal
tersebut menyatakan bahwa virus berupa bakteri yang sangat kecil sehingga
keberadaannya sangat sulit untuk dijangkau bahkan ia masih dapat lolos meskipun
sudah diberikan disinfektan. Virus mempunyai bentuk yang berbeda-beda seperti
ada yang berbentuk bulat, oval,memanjang, silindaris dan ada juga berbentuk T.
Variasinya pun bermacam-macam dari segi ukuran, bentuk dan komposisi
kimiawinya. Untuk melihat virus harus menggunakan mikrosop elektron sebab virus
ukurannya sangat kecil dibanding bakteri dan berkisar dari 0,02 mikrometer
sampai 0,3 mikrometer.
Dalam
proses perkembangbiakan virus membutuhkan metabolisme sel penjamur untuk
membantu penggabungan virus lainnya. Sehingga virus dapat berkembangbiak dengan
cepat didalam tubuh inang. Virus sendiri tidak melulu dapat menimbulkan
penyakit di dalam tubuh akan tetapi ada virus yang memiliki peran
mikroorganisme yang menguntungkan dan ada yang merugikan. Virus yang
menguntungkan bagi tubuh adalah virus yang berperan penting dalam rekayasa
genetika karena dapat digunakan sebagai pengganti gen (reproduksi DNA yang
secara genetis identik). Misalnya virus yang digunakan dalam terapi gen
terhadap manusia guna menyembuhkan penyakit gen (penyakit bawaan sejak lahir)
seperti diabetes dan kanker. Sedangkan virus yang merugikan adalah virus yang
dapat menyebabkan berbagai jenis penyakit pada makhluk hidup seperti manusia,
tumbuhan dan hewan. Virus yang merugikan dan dapat menyebabkan penyakit adalah
virus hepatitis, virus hepatitis A (HAV), Human Immunodeficiency Virus (HIV)
dan sebagainya.
Dalam
penyebarannya virus dapat menyebar melalui berbagai jaringan :
- Melalui
saluran pernafasan
- Melalui
saluran pencernaan
- Melalui kulit
- Melalui
plasenta
Covid-19
atau Coronavirus Disease 2019 adalah penyakit baru yang dapat menyebabkan
gangguan pernapasan dan radang paru. Covid-19 disebabkan oleh infeksi Severse
Acute Respritory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Coronavirus pertama kali
di temukan di Wuhan, China tepatnya di pasar hewan Huanan, Wuhan. Umumnya
masyarakat Wuhan terbiasa mengkonsumsi daging hewan liar, mereka bahkan menjual
hewan tersebut dalam kondisi hidup sehingga dari mengkonsumsi daging hewan liar
tersebut masyarakat Wuhan mengalami gejala yang akhirnya dinyatakan positif
coronavirus. Sebab coronavirus awalnya menular dari hewan ke manusia namun
kemudian diketahui bahwa coronavirus juga menular dari manusia ke manusia. Awal
mulanya kemunculan coronavirus diduga merupakan penyakit pneumonia karena
memiliki gejala yang sama seperti flu pada umumnya. Akan tetapi virus corona
ini mampu berkembang sangat cepat sehingga mengakibatkan infeksi lebih parah
dan gagal organ.
Gejala
yang dimunculkan umumnya sangat beragam seperti batuk, pilek, nyeri
tenggorokan, nyeri otot, nyeri kepala dan yang sangat parah adalah pneumonia
atau sepsis. Sehingga coronavirus diartikan sebagai kumpulan virus yang bisa
menginfeksi system pernapasan. Selain disebabkan oleh virus SARS ditemukan juga
virus penyebab lainnya yaitu virus MERS atau Middle-East Respritory Syndrome,
kedua virus itu termasuk kedalam kelompok virus yang sama yaitu coronavirus.
Covid-19 dengan SARS dan MERS memiliki perbedaan yaitu kecepatan penyebaran dan
keparahan gejala yang ditimbulkan. Virus ini dapat menyebar ke siapa saja, akan
tetapi akan sangat berbahaya jika coronavirus terjadi pada orang yang lanjut
usia, ibu hamil dan orang yang memiliki penyakit tertentu seperti perokok,
asma, kanker dan tentu saja pada orang yang memiliki imunitas tubuh yang lemah.
Karena
coronavirus ini mudah menyebar dan menginfeksi siapapun, bahkan tenaga medis
pun dapat dengan sangat mudah terinfeksi coronavirus yang ditularkan dari
pasien pengidap coronavirus diperlukannya APD untuk para tenaga medis agar
mereka terhindar dari penyakit coronavirus tersebut. Dalam melakukan
pemeriksaan kepada orang – orang yang dianggap mengidap coronavirus para tenaga
medis melakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah orang tersebut positif atau
tidak, pemeriksaannya tersebut melalui beberapa test seperti :
· Rapid
Test bertujuan sebagai penyaring.
· Swab
Tes atau Tes PCR bertujuan untuk mendeteksi virus corona di dalam dahak.
· CT
Scan bertujuan untuk mendeteksi infiltrate atau cairan di paru-paru.
Dalam
melakukan pencegahan agar tidak terkena coronavirus masyarakat dianjurkan untuk
menghindari factor – factor yang dapat menyebabkan coronavirus, yaitu dengan :
· Menggunakan
Masker
· Menjaga
jarak
· Rutin
mencuci tangan
· Tidak
menyentuh mata, mulut dan hidung sebelum mencuci tangan
· Menjaga
kondisi tubuh dengan minum vitamin
· Hindari
kontak dengan penderita covid-19
· Tutup
mulut dan hidung ketika bersin dan batuk
· Jaga
kebersihan rumah dan lingkungan
- Bonus
Demografi
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, bonus di definisikan sebaga upah tambahan di luar
gaji atau upah sebagai hadiah atau perangsang gaji/upah. Yang pelu digaris
bawahi mengenai definisi ini adalah tambahan atau hadiah.Kalau kita mendapat
tambahan atau upah atau hadiah berarti merupakan suatu keuntungan bagi kita.
Bonus
demografi bukan merupakan upah ataupun bukan merupakan uang.Tetapi bonus
demografi diartikan sebagai keuntungan yaitu keuntungan ekonomi yang disebabkan
rasio ketergantungan. Rasio ketergantungan pada saat bonus demografi adalah
yang paling rendah yang terjadi hanya satu kali dalam sejarah perjalanan
penduduk.
Rasio
ketergantungan atau dependency ratio yang rendah berarti
penduduk usia produktif (usia 15 – 64 th) proporsinya besar. Bila penduduk usia
produktif proporsinya besar, ini dapat menguntungkan negara. Karena mereka yang
dapat menghasilkan (dari bekerja), sehingga roda perekonomian berputar dengan
baik. Sedangkan usia non produktifnya (0-14 th dan diatas 65 th) proporsinya
sedikit. Artinya mereka yang tidak menghasilkan ini ditanggung oleh usia yang
prroduktif.
Terminologi
bonus demografi masih asing bagi warga masyarakat. Di kalangan akademisi pun
banyak yang belum memahami apa dan bagaimana bonus demografi itu, serta apa
urgensinya bagi Indonesia. Padahal, para pakar kependudukan memprediksi bahwa
Indonesia akan mendapat bonus demografi pada tahun 2020-2030 mendatang, yakni
jumlah penduduk usia produktif sangat besar sedangkan jumlah penduduk usia muda
sangat kecil sementara jumlah penduduk lanjut usia belum banyak.
Besarnya
proporsi penduduk usia produktif yakni yang berada pada rentang usia 15 tahun
sampai 64 tahun dalam evolusi kependudukan tersebut, menyebabkan proporsi
penduduk usia produktif menjadi modal penting dan berharga dalam mengemban
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia di masa
mendatang. Namun, pencapaian bonus demografi tersebut bukanlah hal yang mudah,
oleh karena keberhasilan pembangunan dari saat sekarang ini menentukan
pencapaiannya.
- Krisis Ekonomi
Krisis
ekonomi yaitu lumpuhnya kegiatan ekonomi karena semakin banyak perusahaan yang
tutup dan meningkatnya jumlah pekerja yang menganggur. Sebelumnya sekitar tahun
1997-1998 Indonesia pernah mengalami krisis moneter yang berlangsung cukup lama
sehingga menimbulkan krisis ekonomi yang parah saat itu. Pada saat itu
Indonesia mengalami krisis moneter dikarenakan jatuhnya nilai tukar rupiah
terhadap dollar AS sehingga Bank – Bank mulai kehabisan modal karena banyaknya
kredit yang tertunda. Sehingga Indonesia menjadi negara paling buruk
dibandingkan negara lain.
Pada
situasi tersebut tentu menimbulkan dampak yang sangat buruk terhadap roda
perekonomian Indonesia dan membawa trauma tersendiri bagi masyarakat. Indonesia
tidak hanya mengalami krisis ekonomi saja tetapi krisis social – politik,
fenomena saat itu disebut dengan ‘Krisis Multidimensional’ karena berdampak
buruk hampir keseluruh sistem Indonesia. Tahun 2008-2009 terjadi krisis ekonomi
global yang dianggap sebagai krisis finansial terburuk sepanjang sejarah selama
80 tahun terakhir, krisis tersebut disebut dengan ‘’The Mother of All Crisis’’.
‘’The
Mother of All Crisis’’ bermula dari Amerika dan kemudian meluas hampir ke
seluruh dunia salah satu negara yang terkena dampak dari krisis ekonomi global
adalah Indonesia. Indonesia kembali lagi mengalami krisis ekonomi karena
Indonesia memiliki perekonomian terbuka dan saling ketergantungan antar negara,
oleh karena itu Indonesia mudah terkena dampak eksternal. Namun pada krisis
2008 – 2009 dampak yang dirasakan oleh Indonesia tidak begitu besar karena saat
itu Indonesia hanya memiliki rasio ekspor atas PDB sekitar 29%. Hal itu
merupakan keuntungan bagi Indonesia sendiri..
Menurut
Rohmad Hadiwijoyo (Ketua Dewan Direktur CIDES) UMKM Indonesia telah berperan
penting sebagai backbone dan buffer zone yang menyelamatkan Indonesia dari
keterpurukan ekonomi meskipun UMKM belum signifikan dalam mendorong pertumbuhan
ekonomi secara nasional. Seperti yang diperlihatkan dalam data BPS bahwa
pascakrisis tahun 1997-1998 jumlah UMKM tidak mengalami pengurangan melainkan
meningkat, tercatat pada tahun 2012 ada 85 juta hingga 107 tenaga kerja dan
jumlah total pengusaha di Indonesia sebanyak 56.539.560 unit. Namun pada tahun
2020 ini Indonesia dikhawatirkan akan mengalami kembali krisis ekonomi untuk
ketiga kalinya karena pandemic Covid-19. Oleh karena itu pemerintah mulai
melakukan banyak cara untuk mengantisipasi terjadinya krisis ekonomi.
D. Mortalitas
Kematian
atau mortalitas merupaka salah satu dari tiga komponen proses demografi yang
berpengaruh terhadap struktur penduduk. Tinggi rendahnya tingkat mortalitas
penduduk di suatu daerah tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan penduduk, tetapi
juga merupakan barometer dari tinggi rendahnya tingkat kesehatan masyarakat di
daerah tersebut (Bagus, 2008).
Kematian
tidak hanya terjadi pada usia tua akan tetapi kematian dapat menimpa siapa saja
baik muda dan tua. Kematian berkaitan dengan masalah social, ekonomi, adat
istiadat dan masalah lingkungan. Mati ialah peristiwa hilangnya tanda-tanda
kehidupan secara permanen yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran
hidup, demikian mati selalu diawali dengan adanya kehidupan. Mati tidak pernah
ada kalau tidak ada kehidupan sedangkan hidup selalu dimulai dengan lahir hidup
(Live Birth) (Bagus, 2008).
Lahir
hidup adalah peristiwa keluarnya bayi dari rahim seorang ibu secara lengkap
tanpa memandang lama kehamilan dan setelah perpisahan tersebut terjadi, bayi
bernafas dan memiliki tanda kehidupan seperti detak jantung, gerakan otot dan
lain-lain. Selain lahir hidup ada juga yang namanya lahir mati, lahir mati
adalah peristiwa menghilangnya tanda-tanda kehidupan dari bayi sebelum bayi
tersebut dikeluarkan dari rahim ibunya.
Untuk
mengetahui suatu kematian didaerah atau tempat diperlukannya data yang mencatat
kematian tersebut. Sumber data yang mencatat kematian diperoleh dari hasil
registrasi vital akan tetapi di Indonesia masih belum berjalan. Oleh karena itu
sensus penduduk, survey, rumah sakit, dinas pemakanan dan kantor polisi menjadi
sumber data yang mencatat kematian seseorang disuatu daerah saat ini.
Untuk
saat ini tingkat kematian di Indonesia meningkat dikarenakan menyebarnya virus
COVID-19. Orang-orang yang rentan seperti lanjut usi dan memiliki riwayat
penyakit genetis (jantung, asma, kanker) memiliki dampak yang serius jika
terkena COVID-19 dapat menyebabkan kematian.Tidak hanya lansia atau orang yang
memiliki riwayat penyakit saja tetapi orang yang imunitasnya kurang baik juga
dapat menyebabkan kematian ketika mereka terkena COVID-19. Oleh karena itu
pandemi ini sangat mengkhawatirkan masyarakat Indonesia sebab virus yang
memiliki gejala seperti penyakit pilek ini dapat menyebabkan kematian jika
masyarakat menghiraukannya.
Seperti
yang diketahui kematian berkaitan dengan masalah ekonomi, saat pandemi COVID-19
muncul di Indonesia perekonomian pun mulai terguncang banyak usaha yang gulung
tikar dan pekerja di PHK. Hal tersebut menyebabkan sebagian masyarakat
kehilangan pendapatan sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dengan adanya permasalahan tersebut tidak memungkinkan untuk terjadinya
kematian.
BAB III
PEMBAHASAN
- Kondisi
Indonesia sebagai Negara yang Mendapat Bonus Demografi Ditengah Ancaman
Krisis Ekonomi Akibat Pandemic COVID-19
Penduduk
dunia diperkirakan mencapai 7,4 miliar jiwa dimana Indonesia menyumbang sebesar
255.182.144 juta jiwa atau sekitar 28,98% penduduk dunia adalah penduduk
Indonesia. Berdasarkan data Survai Penduduk Antar Sensus (SUPAS) tahun 2015
jumlah penduduk Indonesia sebanyak 255,18 juta jiwa. Jumlah ini bertambah
setiap tahunnya dalam jangka waktu lima belas tahun yaitu tahun 2000 hingga
2015, jumlah penduduk Indonesia mengalami penambahan sekitar 50,06 juta jiwa
atau rata-rata 3,33 juta setiap tahun.
Komposisi
penduduk Indonesia berdasarkan SUPAS menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk
Indonesia berada pada kelompok umur muda. Hal ini disebabkan masih tingginya
angka kelahiran atau fertilitas di Indonesia. Pertumbuhan penduduk di Indonesia
mengalami penurunan yaitu dari 1,4 % tahun 2000-2010 menjadi 1,43% tahun
2010-2015. Sebagai sebuah negara yang memiliki jumlah penduduk dalam usia
produktif yang sangat banyak dan bahkan diprediksi hingga beberapat tahun
kedepan Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang mendapatkan bonus demografi.
Sebagai
sebuah negara yang memiliki proporsi penduduk produktif rentang usia antara 15
- 40 tahun dalam evolusi kependudukan yang dialaminya, Indonesia sebagai negara
yang mendapat bonus demografi, dimana merupakan masa transisi demografi, yaitu
terjadinya penurunan tingkat kematian yang diikuti dengan penurunan tingkat
kelahiran dan dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan
memanfaatkan penduduk usia produktif secara optimal. Dengan demikian, bonus
demografi akan menjadi kesempatan besar, jika banyaknya penduduk usia produktif
seimbang dengan ketersediaan lapangan pekerjaan (Noor, tth: 124).
Bangsa
Indonesia diperkirakan mengalami bonus demografi pada tahun 2012-2028. Hal
tersebut menjelaskan bahwa Indonesia saat ini di tahun 2020 telah memasuki dan
berda pada masa bonus demografi tersebut. Sebagai negara yang mendapatkan bonus
demografi akan menyebabkan ketergantungan penduduk dimana tingkat penduduk
produktif menanggung penduduk nonproduktif (usia tua dan anak-anak) akan sangat
rendah atau sekitar 10 penduduk usia produktif akan menanggung 3-4 penduduk
usia non produktif. Hal ini akan menguntungkan bagi produktivitas dan
pertumbuhan ekonomi suatu Negara apabila sumberdaya manusia terutama usia
produktif berkualitas.
Oleh
karena itu seperti halnya kemajuan yang terjadi pada Negara Korea Selatan
dimana kemajuan negara tersebut terjadi setelah mengalami masa bonus demografi
pasca mengalami kehancuran pada perang dunia. Dengan sudah memasuki era bonus
demografi, Indonesia harus bersiap siap memanfaatkan bonus demografi ini dengan
sebaik baiknya, agar bonus demografi ini benar benar bermanfaat sehingga dapat
menjadi anugerah (kemajuan ekonomi).
Akan
tetapi kondisi Negara Indonesia pada saat ini sedang dalam kondisi terancam
terkena krisis ekonomi akibat wabah dari pandemi COVID-19. Virus yang pertama
kali muncul pada masyarakat Wuhan dinyatakan sebagai penyebab timbulnya corona
virus pada Desember 2019. Saat itu hanya beberapa orang yang dinyatakan positif
terkena corona virus namun semakin hari semakin banyak orang-orang yang terkena
virus tersebut dikarenakan interaksi yang dilakukan oleh penderita yang belum
mengetahui bahwa dirinya terkena virus sehingga ketika mereka melakukan
aktifitas sehari-hari tanpa sadar orang-orang yang berinteraksi dengan mereka
tertular penyakit tersebut. Hingga virus ini semakin menyebar bukan hanya
masyarakat Wuhan saja yang terkena corona virus tetapi hampir semua negara di
dunia termasuk Indonesia mendapatkan dampak nya. WHO menyatakan bahwa corona
virus adalah pandemi karena menyebar ke seluruh negara di dunia sebanyak 185
negara yang terjangkit corona virus. Hal ini tentu sangat merugikan
negara-negara yang tidak tahu menahu sehingga mereka merasakan dampaknya.
Indonesia
sebagai salah satu negara yang memiliki dampak dari pandemi COVID-19 ini
mengalami banyak kerugian seperti dalam hal social, ekonomi dan budaya bahkan
dengan adanya virus ini tidak sedikit orang-orang dari berbagai negara yang
telah meninggal karena daya tahan tubuh mereka yang tidak kuat melawan virus
tersebut. Di Indonesia, data hingga Senin (6/4/2020) jumlah orang
yang terinfeksi mencapai 2.491 orang, 209 meninggal dan 192 orang
dinyatakan sembuh. Akibat dari pandemi ini Indonesia pun ikut terkena
dampak dalam segi ekonomi dimana dampaknya membuat setiap negara harus
mengeluarkan kebijakan guna mencegah penularan virus tersebut. Berbagai
kebijakan dikeluarkan oleh berbagai negara mulai dari social distancing,
Physical distancing, Lock Down, dan terkini di Indonesia dibuat regulasi
Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menyusul terbitnya Peraturan Pemerintah
Nomor 21 Tahun 2020.
Kondisi
ini tentu berdampak pada turunnya proyeksi pertumbuhan ekonomi global. Berbagai
lembaga internasional memprediksi turunnya proyeksi ekonomi global tahun ini.
Internasional Monetary Found (IMF) menyebutkan penyebaran virus Corona yang
cepat akan menghapus harapan pertumbuhan ekonomi 2020. Imbas dari kebijakan
setiap negara dan kebijakan negara itu sendiri menimbulkan kelumpuhan sebagian
sistem perekonomian seperti halnya sistem ekspor dan impor yang tertunda, serta
penuutupan sejumlah lapangan pekerjaan guna mencegah penyebarann virus tersebut.
Kondisi
ini membuat Negara Indonesia mengalami berbagai persoalan ekonomi diberbagai
sektor dimana, sektor-sektor yang ikut terkena dampak dari wabah virus ini
adalah sektor lembaga keuangan di Indonesia seperti perbankan hingga konsumsi
rumah tangga yang menurun. Di sektor konsumsi rumah tangga terjadi ancaman
kehilangan pendapatan masyarakat karena tidak dapat bekerja untuk memenuhi
kebutuhan hidup. Terutama rumah tangga miskin dan rentan serta sektor informal.
Kemudian, penurunan lainnya juga terjadi pada UMKM. Pelaku usaha ini tidak
dapat melakukan kegiatan usahanya sehingga terganggu kemampuan memenuhi
kewajiban kredit.
Selain
itu menurut Menteri Keuangan RI bahwa ekonomi Indonesia mendapat pengaruh virus
corona. Dimana pada dasarnya Indonesia merespons apa yang berkembang di dunia
ini terutama dari G-20 bahwa suasana perekonomian dunia sangat terpengaruh oleh
kondisi virus corona yang sampai hari ini masih belum dipastikan ini akan
menjadi seberapa panjang. Dalam menghadapi masalah ini berbagai negara lain
sudah membuat skenario untuk mengantisipasi penurunan pertumbuhan ekonomi
akibat virus corona, termasuk Indonesia.
Skenario
tersebut perlu segera dibuat karena, Negara Indonesia mengalami kesulitan
dalam segi ekonomi dimana kebutuhan akan pentingnya biaya kesehatan dan
logistik masyarakat yang harus terpenuhi oleh masyarakat, serta menimbulkan
banyaknya pemutusan hubungan kerja akibat banyak lapangan pekerjaan khususnya
di Indonesia dalam bidang industri yang mengalami berhenti produksi akibat
tidak adanya pesanan dari luar akibat wabah virus ini. Selain itu usaha
industri kreatif dan rumahan juga mengalami dampak akibat sulitnya mendapatkan
konsumen akibat kondisi kesulitan saat ini. Hal ini membuat kondisi di
Indonesia sebagai negara yang mendapatkan bonus demografi mengalami kesulitan
dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi akibat masalah pandemi virus ini.
Selain
itu tingkat kematian yang terus menaik kini menjadikan masyarakat semakin
khawatir karena pemerintah akan memberikan waktu lebih lama lagi untuk
melakukan Lock Down sehingga semakin banyak para pekerja
kesulitan mencari penghasilan karena pemberlakuan yang diterapkan oleh
pemerintah. Kini masyarakat berharap akan menurunnya tingkat kematian yang
disebabkan COVID-19 agar Indonesia cepat ‘sembuh’ dari pandemi ini dan tidak
ada lagi pekerja yang kehilangan pekerjaan atau sulit untuk mencari penghasilan
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
- Upaya
Pemerintah dalam Menangani Krisis Ekonomi Saat Pandemi COVID-19
Sebagai
sebuah negara yang memiliki bonus demografi di era ini, ditambah dengan posisi
indonesia sebagai negara anggota G20 yang mewakili wilayah Asia Tenggara, serta
telah dimasukannya isu bonus demografi ke dalam Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Termasuk menjabarkan kerangka
pelaksanaannya. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena bonus demografi telah
disadari dan mendapatkan perhatian dari pemerintah.
Salah
satu upaya pemerintah untuk menghadapi era bonus demografi ini melalui
pemerataan pendidikan dasar bagi seluruh penduduk Indonesia dengan memberikan
beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sebesar 1,3 Triliun.
Pemerataan akses pendidikan dasar terutama bagi penduduk yang ada di pelosok
dan kurang mampu secara tidak langsung akan meningkatkan kualitas sumber daya
manusia Indonesia.
Selain
itu dicanangkannya pendidikan kependudukan oleh Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan menjadi salah satu upaya untuk memberikan pengetahuan, kesadaran,
dan tingkah laku tentang komponen-komponen dalam demografi dan kependudukan.
Dengan mengetahui, setidaknya penduduk usia non produktif (penduduk usia
sekolah sampai 15 tahun) menjadi sadar dan akhirnya akan mempengaruhi perilaku
mereka yang serba bertanggung jawab terhadap pertambahan penduduk di Indonesia.
Akan
tetapi saat ini seluruh dunia bahkan Negara Indonesia sedang dihadapi dengan
isu penyebaran wabah virus corona, dimana wabah ini telah mengancam pertumbuhan
ekonomi dunia bahwa Indonesia. Oleh karena ini sebagai sebuah negara yang
sedang merancang pembangunan ekonominya melalui bonus demografi, Indonesia
harus segera membuat langkan atau skenario guna dapat mengatasi masalah pandemi
corona. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa ditengah pandemi virus ini
dibutuhkan langkah yang tepat guna mengatasi masalah ekonomi dinegara ini.
Berbagai
kebijakan perlu dibuat dan dilakukan oleh Indonesia guna dapat mampu menekan
angka stabilitas ekonomi di Indonesia. Pada saat ini dimana Indonesia sedang di
hadapkan oleh krisis ekonomi akibat lambatnya laju pertumbuhan ekonomi serta
banyaknya masyarakat yang bekerja terpaksa dirumahkan akibat banyaknya lapangan
pekerjaan yang tutup sementara akibat masalah pandemi ini maka pemerintah
mengeluarkan berbagai kebijakan bersamaan dengan kebijakan yang dikeluarkan
oleh pemerintah daerah khususnya daerah yang saat ini menjalankan kebijakan
PSBB guna menanggulangi penyebaran virus tersebut.
Pemerintah
pusat mengeluarkan beberapa kebijakan ekonomi guna mengatasi masalah akibat
Pandemi COVID-19 diantaranya yang pertama, Presiden memerintahkan seluruh
menteri, gubernur dan wali kota memangkas rencana belanja yang bukan belanja
prioritas dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Kedua, melalui Presiden meminta
pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk mengalokasikan ulang anggarannya
untuk mempercepat pengentasan dampak corona, baik dari sisi kesehatan dan
ekonomi. Langkah tersebut sesuai dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4
Tahun 2020 tentang Tentang Refocussing Kegiatan, Realokasi Anggaran serta
Pengadaan Barang dan Jasa dalam rangka Percepatan Penanganan Virus Corona.
Ketiga,
pemerintah pusat serta pemerintah daerah menjamin ketersediaan bahan pokok,
diikuti dengan memastikan terjaganya daya beli masyarakat, terutama masyarakat
lapisan bawah. Bantu para buruh, pekerja harian, petani, nelayan, dan pelaku
usaha mikro dan kecil agar daya belinya terjaga. Salah satunya seperti halnya
yang dilakukan di Provinsi Jawa Barat dimana pemerintah derah mebagikan
logistik kepada setiap masyarakat yang membutuhkan ditengah wabah virus
COVID-19. ujar Jokowi. Keempat, pemerintah mendorong program Padat Karya Tunai
diperbanyak dan dilipatgandakan, dengan catatan harus diikuti dengan kepatuhan
terhadap protokol pencegahan virus corona, yaitu menjaga jarak aman satu sama
lain. selain itu pemerintah juga mengeluarkan kebijakan melaui kartu prakerja
sebagai salah satu upaya dalam mengatasi masalah ditengan penyebaran ekonomi,
walaupun kebijakan ini dirasa tidak sesuai dengan fungsi dari dibuatnya
kebijakan ini pada awal masa kampanye presiden.
Kelima,
pemerintah memberikan tambahan sebesar Rp 50.000 pada pemegang kartu sembako
murah selama enam bulan. Dengan demikian, peserta kartu sembako akan menerima
Rp 200.000 per keluarga per bulan. Untuk menjalankan alokasi tambahan kartu
sembako ini, pemerintah menganggarkan biaya Rp 4,56 triliun. Keenam, pemerintah
juga membayarkan pajak penghasilan (PPh) Pasal 21 yang selama ini dibayar oleh
wajib pajak (WP) karyawan di industri pengolahan. Alokasi anggaran yang
disediakan mencapai Rp 8,6 triliun. Ketujuh, Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
memberikan relaksasi kredit di bawah Rp 10 miliar untuk Usaha Mikro Kecil dan
Menengah (UMKM). Relaksasi tersebut berupa penurunuan bunga dan penundaan
cicilan selama setahun, baik dari perbankan dan industri keuangan non bank.
Selain itu, penangguhan cicilan selama setahun juga berlaku bagi ojek, supir
taksi dan nelayan yang memiliki cicilan kendaraan.
Dari
ketuju kebijakan tersebut masih dirasa belum efektif untuk tetap menekan dampak
buruk dari virus corona ini dalam aspek ekonomi. Indonesia dituntut untuk dapat
menciptakan berbagai skenario yang mungkin dapat digunakan untuk menekan
masalah ekonomi ini. Hal ini karena dampak dari penyebaran virus corona ini
tidak diketahui kapan akan berhenti. Salah satu skenario yang dikeluarkan oleh
pemerintah adalah melalui pembuatan paket kebijakan pariwisata. Kebijakan ini
berisi mengenai pemberian paket-paket pariwisata untuk mencegah dampak terlalu
besar terhadap jumlah kunjungan pariwisata ke Indonesia. Hal ini karena
kunjungan itu berpengaruh pada restoran, hotel, maka kebijakan ini akan
memfokuskan kepada daerah-daerah yang kena dampak langsung itu. Itu
dipaket-paket seperti paket pariwisata terkait diskon pesawat, untuk travel
agen, untuk daerah sendiri juga malam ini formulasinya sedang difinalkan.
Akan
tetapi kebijakan tersebut menuai kritik yang keras dari masyarakat dan para
akademis serta para pihak pihak kesehatan. Hal ini karena kebijakan tersebut
dapat menimbulkan penyebaran virus covid-19 kesetiap daerah yang memiliki objek
wisata. Hal ini akan berdampak fatal karena dengan biaya paket wisata murah
makan banyak masyarakat yang tergiur dan akan pergi berwisata dan akhirnya
dapat menimbulkan masalah abru yaitu mudahnya penyebaran virus corona dari
program tersebut. Sehingga program ini pun harus segera di respon oleh
pemerintah untuk dikaji ulang agar mencegah terjadinya permasalahan dan
kegaduhan di masyarakat.
- Upaya
Mayarakatyang Menjadi Bonus Demografi di Indonesia dalam Menghadapi Krisis
Ekonomi Akibat Pandemic COVID-19
Penduduk
dunia diperkirakan mencapai 7,4 miliar jiwa dimana Indonesia menyumbang sebesar
255.182.144 juta jiwa atau sekitar 28,98% penduduk dunia adalah penduduk
Indonesia. Modal manusia yang sangat besar ini harus dimanfaatkan sebaik
baiknya untuk membangun Indonesia. Karena sejak tahun 2015 Indonesia telah
masuk ke era bonus demografi dimana jumlah penduduk usia produktif sangat
banyak. Penduduk usia produktif ini adalah merupakan tenaga kerja yang dapat
dimanfaatkan untuk membangun Indonesia. Tenaga kerja yang jumlahnya meningkat
ini dapat dimanfaatkan apabila mereka terdidik, terampil, sehat dan ada
lapangan pekerjaannya.
Dalam
perjalannya saat ini sebagai sebuah negara yang memiliki bonus demografi,
Indonesia mengalami masalah ancaman krisis ekonomi akibat wabah virus COVID-19
yang tengan terjadi di seluruh dunia saat ini. Permasalahan ini pula
menyebabkan banyaknya para golongan yang termasuk kelompok bonus demografi
mengalami putus kerja akibat banyaknya lapangan pekerjaan yang tutup akibat
penyebaran virus ini. Oleh karena itu sebagai golongan generasi muda diharapkan
mampu memberikan solusi atas masalah yang terjadi serta dalam hal memenuhi
kebutuhan hidup di kondisi masyarakat saat ini mereka diharapkan mampu
menciptakan langkah yang tetap dapat menimbulkan kondisi yang produktif
walaupun saat ini tengah berada di tengah wabah COVID-19.
Salah
satu langkah yang bisa dilakukan oleh para golongan generasi muda yang menjadi
bonus demografi negara bisa melakukan upaya guna tetap meningkatkan
produktifitas dan juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Langkah yang dapat
diambil diantaranya:
1. Melakukan
usaha informal berbasis aplikasi. Langkah ini dianggap efektif dalam
meningkatkan produktifias karena ditengah kondisi saat ini banyak masyarakat
yang tidak bisa keluar rumah untuk membeli bahan kebutuhannya sehingga dengan
melalui media belanjan online mereka bisa tetap mendapatkan apa yang mereka
butuhkan dan juga golongan yang mennjadi bonus demografi dapat menjadi tetap
produktif ditengah kondisi saat ini.
2. Memanfaatkan
situasi melalui inovasi. Langkah ini harus dilakukan guna dapat mendorong diri
setiap golongan generasi muda yang menjadi bonus demografi negara untuk tetap
produkif diantaranya adalah dengan membuat kelompok dalam berbisnis atau
membuat inovasi via aplikasi atau onlie seperti halnya di kota bandung dimana
sekelompok pemuda membuat aplikasi untuk para warga berbelanja kebutuhan di
pasar tradisional sehingga mereka bisa membatu dua golongan sekaligus yaitu
pedagang pasar dan juga warga yang menjadi konsumen dimana kelompok ini menjadi
pelantara diantara keduanya.
3. Memanfaatkan
media sosial untuk berbisnis dan berinovasi. Di era saat ini banyak langkah
yang dapat ditempuh oleh para generasi muda diantaranya yaitu melalui bisnis
berbasis media sosial dimana dengan melalui media sosial tidak akan terciptanya
kontak langsung dan dapat mencegah penularan virus serta tetap menjadi golongan
yang produktif.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dengan
demikian sebagai sebuah negara yang mendapatkan bonus demografi saat ini,
Negara Indonesia harus mampu menanfaatkan posisi tersebut walaupun saat ini
Indonesia sedang berada titengah ancaman krisis ekonomi akibat wabah virus
corona dimana di saat ini, posisi pertumbuhan ekonomi Indonesia sedang
mengalami perlambatan serta berbagai persoalan akibat wabah virus corona
seperti halnya banyaknya pemutusan hubungan kerja, serta perlambatan laju
investasi.
Sebagai
sebuah negara yang memiliki bonus demografi di era ini, Indonesia harus mampu
menjaga pertumbuhan ekonominya guna dapat meningkatkan pembangunan negara
walaupun saat ini Indonesia berada ditengan kondisi ketidakstabilan ekonomi
akibat penyebaran virus corona, Indonesia harus mampu menjalankan dan meningkatkan
pertumbuhan ekonomi melalui berbagai kebijaakan yang dirasa efektif guna
mencegah perlambatan pertumbuhan ekonomi dan menjadi masalah diwaktu yang akan
datang.
Dengan
demikian sebagai bagian dari masyarakat yang menjadi bonus demografi Indonesia,
dalam menjalankan dan tetap meningkatkan kondisi pertumbuhan ekonomi di
Indonesia para bagian dari masyarakat yang menjadi bagian dari bonus demografi
dapat melakukan berbagai inovasi dan kegiatan yang dapat tetap meningkatkan
produktifitas dan keuntungan melalui media sosial dan dunia maya yang
dimanfaatkan guna mendapatkan keuntungan ditengan wabah covid-19 saat ini.
SUMBER
:
(n.d.).
Falikhah, N. (n.d.). Peluang dan Tantangan
Bagi Indonesia. Bonus Demografi, 1-3.
Ihsanuddin. (n.d.). 9 Kebijakan
Ekonomi Jokowi di Tengah Pandemi COVID-19: Penangguhan Cicilan hingga Relaksasi
Pajak. Retrieved from Kompas.com:
https://nasional.kompas.com/read/2020/03/26/07412441/9-kebijakan-ekonomi-jokowi-di-tengah-pandemi-covid-19-penangguhan-cicilan?page=3.
Problematika Pemerintah Dalam Menyongsong
Bonus Demografi Di Indonesia. (2018). Jurnal Potret - Jurnal Penelitian
dan Pemikiran Islam.
Q&A on Coronaviruses (COVID19). (2020, April 17). Retrieved from World
Healt Organizatioj: https://www.who.int/news-room/q-a-detail/q-a-coronaviruses
Septia, M. D. (2016). Kajian Penyebab Tingkat
Kematian. 1-2.
Tarmidi, L. T. (1999). Krisis Moneter
Indonesia Sebab, Dampak, Peran Dan Sasaran . Buletin Ekonomi Moneter
dan Perbankan, 1-3.
Virus. (n.d.). Retrieved from https://duns.ac.id/repository/docs/ajar/BAB_IV_virus.pdf